Selasa, 31 Desember 2013

Cerita tentang mimpi



Malam ini, malam tahun baru. Anggaplah aku terlalu iba karena menghabiskan pergantian hari, maksudku tahun hanya dengan menulis, bercengkrama sepanjang hari dengan layar laptop yang membuat mataku sakit bukan main. Dan anggaplah kalian yang membaca beruntung tak punya nasib sepertiku.

Aku dan adikku akhirnya menuju salah satu bioskop dekat rumah. Beruntung filmnya belum mulai. Kami bergegas memberi tiket yang disebut “freepass” itu ke mbak penjaga kasir. Wusss… dengan mulus freepass tadi berganti jadi tiket bioskop.

Laskar pelangi 2. Sekuel pertamanya aku tonton dahulu kala zaman smp bersama almarhum ayah. Tepat di bioskop ini juga. Sayang, saat yang kedua ini, aku sudah tak ditakdirkan bersama ayah. Ataukah ayah mengikutiku ke bioskop?. Sebutlah aku bergurau.

Aku mengamati. Yap. Filmnya sudah beda tangan rupanya. Beda produksi. Pantas nuansa kemunculannya juga beda. Kisah Edensor itu adalah kisah dimana kehidupan ikal dan arai berada di Sorbone untuk meraih mimpi mereka. Namun, di satu sisi jalan mencapai mimpi itu, tak jarang banyak hambatan dan godaan.

Teringat kembali masalah buku,pesta,cinta. Tiga hal kehidupan mahasiswa. Ketika seharusnya memiliki ketiganya agar saling mendukung namun, ada satu ketika juga salah satu dari ketiganya merusak yang lain. Cinta. Cinta ikal masih ada untuk Aling, tapi kali ini, Ikal terjebak dalam romansa bersama gadis jerman di kampusnya. Memang tak sengaja. Namun sedikit banyak merubah pandangan ikal terhadap mimpinya. Ibarat itu adalah godaan. Nilai ikal cukup buruk sehingga tidak bisa lulus master satu nya. Arai sang teman perjuangan pun merasa kesal. Ia merasa harusnya ikal hanya fokus pada mimpinya bukan hal yang lain.  Dan ini bukanlah masalah cinta.

Mimpi bukan seperti halnya mimpi dikala kita tertidur, atau bahkan mimpi-mimpi dangkal berlandaskan ambisius belaka. Mimpi ini, menyangkut berbagai orang. Orang-orang terpenting, orang-orang yang membuat dunia-nya berputar, orang-orang yang dikasihi dan mengasihi mereka.

Ya, mimpi aria dan ikal punya latar belakang tersendiri.
Seperti, layaknya lintang yang putus sekolah, lalu berkata pada ikal “ku serahkan mimpi-mimpi ku padamu, begitupun mimpi anak-anak laskar pelangi. Kalau kau berhasil, aku, kami juga ikut senang.”
Mungkin kuncinya harus bersyukur, tak setiap orang punya kesempatan yang sama. Saat kita diberi kesempatan, janganlah sekali-sekali disiakan.
Ini sekaligus merefleksi diriku. Ketika aku melangkah sejauh ini, saat aku terkadang mengeluh. Mungkin sebaiknya aku melihat posisiku sekarang sebagai mimpi orang lain. Mimpi orang lain yang aku jalankan. Mungkin, mereka kesal melihatku, bahkan melempar sumpah serapah ketika mimpinya jatuh kepadaku, orang yang tak lebih baik menjalankan mimpi (impian mereka). Ketika, aku bisa mengenyam kuliah langsung setelah lulus SMA, di sebuah universitas (sebut saja ternama). Orang lain, mungkin harus menunggu satu, dua, atau tiga tahun bahkan memutar haluan. Satu, dua, orang, bahkan ribuan lainnya bahkan tak sempat terpikir untuk lanjut kuliah.

Mimpi ikal dan arai merupakan sebuah kebahagiaan tak terperi bagi ayah. Ayahnya selalu membangga-banggakan kedua pemuda itu, di kampung mereka di Belitong, katanya, pemuda terbaik dia miliki.
Mungkin itu seperti Ibu. Iya ibu, ibuku. Rasanya ibu sungguh berbangga hati melihat pencapaianku sekarang , ya kuliah di blablabla. Kurasa, aku begitu jahat ketika kebanggaan itu aku siasiakan. Ibu, selama ini dengan susah payahnya, membuat aku merasa bahagia. Saat aku bercerita “ibu, masa kliping pkn salah satu temen aku dikerjain pembantunya.” Ya, saat itu, aku berlelah-lelah mengerjakan kliping itu sendiri, menangis karena waktu itu tidak punya computer untuk sekedar mengetik nama di cover depan, menangis karena bahkan tak punya bahan Koran untuk dikliping. Aku tidak menyalahkan ibu. Tapi, ibu mungkin merasa bersalah tak bisa memberikan keadaan yang terbaik untuk anaknya. Ibu telah menutup telinga dan hati ku untuk perkataan seperti itu. Mungkin aku memang harus mengerjakan tugas ku sendiri tanpa bantuan. Karena, ibu juga tidak cukup waktu untuk mengerti tugas ku. Tapi, kasih sayang selalu ada. Ibu selalu mendukung aku. Sekuat tenaganya. Segala energi ibu tercurah padaku, sebesar itu pula harapannya. “ibu gak bisa kasih kamu apa-apa, kamu sekoah yang pinter, nanti kamu bisa beli apa aja.” Ibu begitu percaya, bahwa suatu saat anaknya dapat merubah keadaan hidup yang tak bisa diubahnya.
                Teruntuk juga malaikat berbaik hati yang dikirim Tuhan untuk sejumlah uang dari tangannya yang aku gunakan untuk kuliah. Sebutlah ia tante uut dan pemerintah. Sesungguhnya aku tak ingin menyesal, aku ingin berjuang sekuat tenaga. Begitu egois rasanya ketika uang mereka, dari hasil jerih payah siang malam, atau bahkan dana hasil pengalihan anggaran subsidi BBM jutaan rakyat negara ini aku gunakan. Tapi, hasil penggunaannya tak bisa ku pertanggung jawabkan. Nauzubillahiminzalik. Sebutlah aku manusia yang tak tau diuntung. Jangan sampai.
               
                Teruntuk mereka, hari ini aku akan mengingat kembali mimpi mereka. Mimpi kita bersama. Mungkin, dikala aku terjebak dalam godaan sebagai manusia. Tulisan tangan ku ini, tentang mereka, dapat mengembalikan jalan ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.